Hobi Jadi Cuan
Dennis Agusdianto, anak muda yang mengubah hobi jadi cuan | Photo by Vicky Vendy Pramanta / Instagram @vickyvendy91

Karja – Terkadang sebuah hobi yang ditekuni bisa menjadi cuan (keuntungan) bagi seseorang. Tak sedikit orang yang ingin menjadikan passionnya sebagai karier, sebagai pekerjaan utama, dan sebagai ladang cuan. Namun kita semua tahu, hobi jadi cuan tidak semudah itu prosesnya.

Ada resiko dan tantangan tersendiri dari menjadikan passion sebagai pekerjaan, namun Dennis Agusdianto termasuk salah satu yang berani mengambil langkah tersebut.

Dennis Agusdianto adalah seorang fotografer asal Indonesia yang berkarier di Taiwan. Ia berhasil membuktikan bahwa kecintaannya pada dunia fotografi mampu dijadikannya sebagai sumber pendapatan. Terbukti, ternyata hobi jadi cuan itu bisa dicapai.

Hobi Jadi Cuan
Photo from Instagram/dennisags

Dennis sendiri sudah jatuh cinta dengan fotografi sejak duduk di bangku SMA. Kemudian di tahun 2017, ia berkesempatan melanjutkan studi S2 ke Taiwan. Di situlah, Dennis bersama kameranya menjelajah berbagai sudut kota Taiwan sembari mengasah skill fotografinya secara otodidak. Ia memanfaatkan internet, khususnya YouTube serta trial and error melalui praktik foto di real life.

Di sela-sela kesibukannya di Taiwan, Dennis bercerita kepada Karja mengenai awal mula perjalanannya di dunia fotografi, suka duka menjadi fotografer, hingga sosok role model dalam berkarya.

Mari simak obrolan Karja bersama Dennis bagaimana sih mengubah hobi jadi cuan, berikut ini:

Bagaimana cerita awalnya bisa terjun ke dunia fotografi?

Pertama kalinya aku menggunakan kamera secara intensif adalah ketika kelas 11 SMA. Pada saat itu, sekolah mengadakan field trip ke hutan bakau yang terletak di dekat kompleks sekolah.

Aku ingin mengabadikan moment field trip itu dengan kamera, tapi aku tidak punya kamera, jadi aku meminjam kamera teman. Aku masih ingat tipe kameranya, Canon EOS 600D. Dari situ mulai jatuh cinta dengan dunia fotografi. Mulai belajar sedikit demi sedikit tentang seluk beluk kamera melalui buku dan internet. Saat itu Instagram belum booming dan konten konten Youtube belum sebagus dan selengkap sekarang.

Kemudian musim panas 2016, aku mendapat kesempatan menjadi peserta Asia Summer Program selama 3 minggu di Bangkok, Thailand. Asia Summer Program ini merupakan program kerjasama yang diadakan oleh Universitas Kristen Petra dengan 4 universitas yang tersebar di Asia, Korea, Jepang, Thailand, dan Malaysia yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa terpilih untuk mengikuti kelas interaktif yang diadakan di universitas yang ditunjuk sebagai host.

Tiap tahun lokasinya berubah sesuai urutan yang telah ditentukan. Ini juga merupakan kesempatan pertama kalinya aku travelling ke luar negeri. Again, aku meminjam kamera teman untuk mengabadikan moment jalan-jalan ku di Thailand. Aku banyak belajar melalui trial and error, aku tidak pernah mengambil kursus atau ikut dalam komunitas fotografi, aku terus memperkaya pengetahuanku melalui internet dan YouTube. Karena aku tidak memiliki kamera digital, aku mengasah skill fotografi ku dengan menggunakan smartphone.

Perjalanan fotografi ku memasuki babak baru ketika aku memutuskan untuk studi S2 di Taipei, Taiwan pada tahun 2017. Begitu banyak hal yang menarik perhatianku karena aku salah satu pecinta travel, aku dapat menjelajah tiap sudut Taiwan sekaligus mengabadikannya lewat foto. Hampir setiap akhir pekan, aku menjelajah setiap sudut kota Taipei dan mencari lokasi foto yang pas dengan selera fotografiku.

Dari hobi jadi cuan; momen apakah yang membuat Dennis akhirnya yakin bahwa menjadi fotografer adalah karier yang ingin dijalani?

Singkat cerita, aku mulai mengubah hobi foto ini menjadi karier ketika aku mulai percaya diri akan skill pribadiku. Dan aku berpikir kenapa tidak mengubah hobi jadi cuan ini supaya bukan hanya sekedar hobi tapi dijadikan sumber pendapatan? Dari situ aku mulai mempelajari lebih dalam akan dunia fotografi dari aspek bisnisnya dan memperbanyak portfolio yang dapat mendukung kebutuhan aspek marketing bisnisku.

Kemudian aku memutuskan menjadi freelance photographer pada tahun 2019 yang fokus di holiday photography buat keluarga dan couple karena kebutuhan pasar dan demand di Taiwan. Berdasarkan data dari Taiwan Tourism Bureau, pada tahun 2019 Taiwan dikunjungi 11.84 juta traveler dari seluruh dunia, meningkat 7% dari tahun sebelumnya. Aku melihat sebuah opportunity yang dapat selaras dengan ide bisnis fotografiku, oleh karena itu aku fokus di area ini hingga sekarang.


Photo from Instagram/dennisags

Salah satu alasan yang membuatku memutuskan untuk menjadikan fotografi sebagai karier adalah: dari masa-masa studi S1 aku sudah memiliki keinginan yang kuat untuk tidak terikat kerja dalam sebuah perusahaan. Aku lebih menikmati bekerja di luar ruangan, aku lebih enjoy kerja diluar jadwal kerja (9 to 5). Dan harapanku adalah aku dapat menjadikan fotografi sebagai full time career di masa yang akan datang karena aku sangat menikmati proses kerja sebagai fotografer.

Salah satu goals pribadi ku adalah menjadi full-time photographer yang menciptakan konten bagi brand, hotel, maupun perusahaan, selain itu aku juga ingin menjadi seorang travel photographer yang dapat menjelajah dunia dan menciptakan gambar gambar yang menginspirasi orang untuk traveling dan melihat indahnya dunia.

Mengapa memutuskan untuk berkarier di Taiwan?

Menjadi fotografer memberi aku kesempatan untuk jalan-jalan, karena aku orangnya sangat menikmati pemandangan alam dan kota. Selain itu juga mengerjakan sesuatu yang aku suka dan dibayar untuk itu merupakan sebuah kemewahan bagiku dan tidak semua orang bisa merasakan hal yang sama lewat pekerjaan mereka.

Terakhir, aku sangat senang bisa membantu mengabadikan momen-momen spesial yang terjadi dalam kehidupan seseorang seperti liburan, proses lamaran, atau kehidupan orang lokal di Taiwan. Momen-momen yang terekam ini tidak akan pernah terulang dan ada kesenangan tersendiri dapat membagikan momen spesial ini ke audiensku.

Dukanya menjadi seorang fotografer, well, profesi ini masih sering diremehkan oleh orang-orang, terkhusus orang yang kurang memahami seluk beluk dunia fotografi dan menganggap siapa saja dapat mengambil gambar asalkan punya kamera digital. Well, di satu sisi itu benar, tapi tidak semua orang memiliki skill dan perspektif yang oke dalam mengambil gambar.

Kemudian, karena orang masih suka memandang remeh dari value fotografi ini, mereka bingung kenapa rate atau pricelist dari sebuah jasa fotografi mahal. Jasa fotografi mahal dikarenakan biaya kamera dan lensa yang tergolong tinggi, dan aku bisa jamin bahwa kualitas dari gambar yang bagus sinkron dengan kualitas kamera dan lensanya juga.

Selain itu, orang seringkali melupakan setelah foto diambil, ada step berikutnya, yaitu proses editing. Kenapa rate professional fotografer berbeda dengan yang fotografer pemula? Karena kemampuan editing jelas berbeda tiap orang, kita tidak dapat menyamaratakan kemampuan pemula dengan seorang professional yang sudah kenyang akan pengalaman dan bekerja dalam berbagai jenis fotografi.

Aku melihat masih banyak miskonsepsi dalam benak tiap orang akan hal ini, sehingga masih sering ditemukan orang yang berusaha menawar harga fotografernya dan mengabaikan hal-hal dibalik layar yang harus dilalui seorang fotografer.

Momen paling berkesan apa yang paling diingat selama menjadi seorang fotografer?

Momen paling berkesan sejauh ini adalah ketika mendapat kesempatan yang sangat langka mengabadikan momen surprise proposal salah satu klien yang berasal dari Amerika. Karena lokasi foto merupakan salah satu tourist spot yang tentunya ramai akan pengunjung di Taiwan, sehari sebelum proses lamaran, aku survei lokasi dan mempelajari medan di sekitar target spot yang telah kami sepakati untuk proses lamaran. Dan cuaca yang pada saat itu tidak mendukung membuat aku was-was akan terjadinya hujan pada hari H.

Pada hari H, aku sangat berharap cuaca dapat mendukung dan tidak terjadi hujan. Tetapi tetap hujan walaupun gerimis. Singkat cerita, cuaca mendadak cerah dan proses lamaran terjadi secara baik dan sukses, aku sangat bersyukur kepada Tuhan untuk cuaca selama proses foto ini. Dan setelah proses foto selesai, terjadi hujan deras!

Momen foto lamaran ini sangat krusial dan penting, oleh karena itu aku mengusahakan yang terbaik dengan mengambil foto secara cepat dan tepat. Ini merupakan salah satu tugas yang paling berat sekaligus menantang bagi karier fotografiku karena momen lamaran berlangsung begitu cepat dan kita hanya punya sekian detik mengabadikan momen yang natural, ekspresif, dan tak akan dapat diulang lagi. Aku sangat berterima kasih kepada klien ku yang sangat baik dan mempercayakan kesempatan yang sangat berharga ini.

Jenis kamera apa yang digunakan saat ini? Dan peralatan-peralatan apa saja yang wajib dibawa saat bekerja?

Canon EOS 80D. Kamera, lensa, pembersih lensa, tas kamera, handuk kecil (karena aku mudah berkeringat ketika musim panas), botol air minum (hidrasi sangat penting bagi fotografer), smartphone untuk membantu navigasi, dan snack berupa biskuit jika tidak ada waktu untuk makan siang atau malam.

Hal-hal apa saja yang dapat menginspirasi Dennis dalam berkarya? Apakah ada role model dalam dunia fotografi?

Becausemost of my learning process are from YouTube, so I have a lot of role model in different kind aspects of photography. But I would say Jessica Kobeissi, Manny Ortiz, and Julia Trotti are some of my favourite YouTubers focusing in photography that you should watch to improve your photography. Karena style foto mereka dan cara pendekatan mereka akan fotografi mendekati akan apa yang aku suka.

Selain itu juga aku juga banyak mendapat inspirasi melalui Instagram. Salah satu akun Instagram yang menginspirasi ku menjadi seseorang yang lebih baik dalam dunia foto tapi tetap humble adalah Jord Hammond (@jordhammond).

Personally aku pernah bertemu dengan beliau Februari tahun lalu (2019) di Taipei ketika beliau berkesempatan mengunjungi Taiwan untuk sebuah project. Beliau adalah orang yang sangat ramah dan tidak sombong meskipun follower-nya sangat banyak, Instagramnya saja sudah mendapat centang biru (verified) dari Instagram! Aku mendapat kesempatan untuk ngobrol dan dan banyak belajar banyak dari beliau lewat percakapan yang terjadi.

Satu hal yang paling menyenangkan dan memuaskan saat menjadi seorang fotografer?

Hal yang menyenangkan dari profesi ini adalah ketika kita mendapat momen yang natural dan sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Sebagai seorang fotografer, aku terus membayangkan hasil dari sebuah foto sebelum aku mengambil foto tersebut. Oleh karena itu tidak semua orang dapat menciptakan gambar yang sama, meskipun mereka memiliki gear dan teknologi yang sama, mata dan pikiran berbeda dari tiap fotografer akan menciptakan gambar yang berbeda pula.

Style dari fotografi Dennis seperti apa, sih?

I like to describe my style as lifestyle photographer, as I like natural style photo more than any other type of photography (studio portrait for example). Basically, lifestyle photographer capture its subject in everyday life situation, more candid, and captured in environment like city. I love to capture the interaction between my subjects. I love the expression of my subjects and you can tell that this kind of photo are way more natural than directed poses.

Apa makna fotografi bagi Dennis?

Makna fotografi bagiku: penyemangat hidup. Ketika aku bingung menentukan arah dan apa yang mau aku kerjakan dalam hidup ini, aku kembali lagi ke fotografi. Mengerjakan apa yang aku benar-benar enjoy dan aku suka. I believe everyone in this world have their own passion and what they desire to do in this life, they are just too afraid to pursue it.

#terusberkarya