Syahrudin sang penjual koran. | Photo by Karja/Titiantoro

Karja – Syahrudin (86) mengayuh sepedanya ketika matahari mulai menyambut hangat Kota Tepian. Ia menyusuri tepi jalanan sambil berjualan koran yang dibawa menggunakan sepeda ontelnya. Debu jalanan dan suara bising kendaraan yang berlalu lalang sudah tidak asing di telinganya. Syahrudin, sang penjual koran, tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Syahrudin berkeliling menggunakan sepeda ontelnya. Selama berjualan sebagai penjual koran dan usia yang semakin bertambah ia mengalami gangguan pada pendengarannya, sehingga ia harus mendekatkan telinganya kepada para calon pembeli.

Ia berjualan koran dari tahun 1983, setelah ia diberhentikan dari salah satu perusahaan kayu di Samarinda.

“Mulai jualan koran dari tahun 83, setelah saya diberhentikan dari perusahaan. Dari pagi jam 7 atau 8 sampai siang hari, setelah salat dan makan saya jualan lagi sampai jam 5 sore,” katanya kepada Karja pada Rabu (8/4/2020) sore.


Syahrudin sang penjual koran menjual koran menggunakan sepeda ontelnya. | Photo by Karja/Titiantoro

Syahrudin mengatakan sering berjualan koran di depan Masjid Islamic Center pada pagi sampai siang hari. Dan dilanjutkan setelah salat dan makan siang di Jalan Slamet Riyadi di depan lapangan panahan.

Banyak suka duka berjualan koran yang Syahrudin rasakan. Salah satunya ialah pernah tidak laku sama sekali koran yang ia jajakan, terlebih jika cuaca hujan deras.

“Kalau dari pagi sampai siang hujan deras, koran-koran yang saya jual tidak laku sama sekali. Karena tidak ada yang membeli, saya harus melindungi mereka agar tidak basah,” tuturnya.

Sering kali ia menerima uang lebih dari pelanggan, walaupun sedikit orang yang menjadi pelanggannya. Syahrudin sering mendapatkan sedekah dari orang-orang.

“Ada yang membeli koran saya, ketika saya memberi angsul (kembalian) mereka menolak. Lebihnya buat saya kata mereka,” tuturnya.

Syahrudin sang penjual koran
Seseorang sedang membeli koran yang dijual Syahrudin, sang penjual koran | Photo by Karja/Titiantoro

Karja sempat mewawancarai salah satu pelanggan yang membeli koran Syahrudin. “Saya sering lewat sini, jadi sesekali saya beli koran yang kakek itu jual,” ucap Siska (24).

Siska juga berharap semoga orang yang sering berlalu-lalang ketika melihat Syahrudin berjualan koran untuk berhenti sebentar dan membeli koran tersebut.

Sebagai seorang penjual koran sejak 37 tahun silam, ia merasakan perbedaan yang jauh sebelum kehadiran berita online. Terlebih lagi setiap orang kini telah memiliki smartphone di genggaman dan sangat mudah dalam mencari berita ketimbang membeli koran.

“Zaman dulu banyak orang mencari koran-koran, karena semua informasi berasal dari situ semua. Sekarang koran sudah mulai ditinggalkan,” pungkasnya.

Syahrudin sang penjual koran
Syahrudin saat menceritakan pengalamannya selama 37 tahun sebagai penjual koran. | Photo by Karja/Titiantoro

Kini dalam sehari ia bisa menjual korannya sebanyak 10 buah. “Alhamdulilah saya mensyukuri hasil penjualan koran yang saya dapatkan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya bersama istri,” ungkapnya.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat dalam mengakses informasi, Syahrudin tetap berjuang berjualan koran lantaran hanya itu sumber penghasilan yang bisa ia kerjakan.

#terusberkarya