Idfi Septiani

Idfi Septiani bersama rekan dari Indonesia lainnya di ajang YSEALI. | Photo from Instagram/Idfiseptiani

Kisah inspiratif kali ini datang dari seorang wanita muda dari Samarinda yang lolos mengikuti Program YSEALI (Young South East Asia Leadership Initiative) selama enam pekan di Amerika pada tahun 2017 lalu. Namanya, Idfi Septiani.

Saat mengikuti program tersebut, Ia pun sedang menjabat sebagai seorang Lurah di Kelurahan Jawa, Samarinda. Tak tanggung-tanggung, Idfi Septiani pun menjadi lurah wanita termuda di Samarinda pada waktu itu.

Awalnya, Idfi mengetahui informasi mengenai YSEALI dari grup alumni. “Aku lulusan IPDN, jadi kita punya grup alumni gitu. Nah, waktu itu kalau nggak salah di Facebook, salah satu dari alumni ada yang share tentang YSEALI, akhirnya aku cari tahu tentang itu,” ucap Idfi memulai obrolan santai bersama Karja.

YSEALI sendiri adalah program kerja sama yang dibangun antara pemerintah Amerika dengan pemerintah negara-negara di ASEAN dan diluncurkan pada tahun 2013. Tujuannya adalah untuk menambah wawasan bagi para pemuda di ASEAN tentang Amerika sekaligus mempererat hubungan.

Pada saat itu ia juga memegang jabatan sebagai Lurah, yakni Lurah di Kelurahan Jawa, Samarinda, maka ia pun akhirnya memutuskan untuk mengambil tema Civic Engagement karena dirasa akan banyak berhubungan dengan masyarakat. “Jadi gimana sih, persepsi civic engagement dari kacamata Amerika, how they do that? Akhirnya aku apply untuk tema tersebut,” ungkapnya.

Idfi Septiani

Delegasi Indonesia untuk program YSEALI berjumlah 15 orang dari masing-masing tema | Photo from Instagram/Idfiseptiani

Idfi sendiri mendapat informasi untuk interview via Skype sekitar bulan Juli pada tahun 2017. “Jadi interviewer-nya ada empat orang, dua dari Washington D.C, satu dari US Embassy di Jakarta, dan satu dari pengelola organisasi lokal,” ucapnya.

Membahas Aplikasi e-Kelurahan dan Studi Kasus tentang Sungai Karang Mumus

Di dalam essay yang ditulis Idfi, ia menceritakan sebuah aplikasi yang ia bangun untuk Samarinda bersama kedua rekannya bernama e-Kelurahan, yaitu sebuah platform pelayanan administrasi pertama kali di Indonesia yang dibangun langsung oleh orang kelurahan.

Tujuan dari aplikasi tersebut adalah memberikan kemudahan kepada aparat kelurahan untuk melayani masyarakat, karena tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang yang bekerja di kelurahan masih ada yang belum mahir dalam menggunakan komputer. Sehingga akibatnya ketika memproduksi surat, masih banyak kesalahan yang terjadi terkait dengan human error seperti salah ketik dan semacamnya.

Keempat interviewer pun sempat bertanya, bagaimana caranya Idfi untuk meyakinkan orang-orang untuk menggunakan aplikasi tersebut. Dengan mantap, Idfi menjawab bahwa butuh tahapan-tahapan untuk memperkenalkan e-Kelurahan.
“Pertama matangkan dulu konsepnya dengan tim, setelah itu presentasi langsung di hadapan staf kelurahan,” paparnya. “Setelah itu melakukan pendampingan langsung kepada staf dalam penggunaan aplikasi tersebut. Setelah mereka terbiasa, dilakukan edukasi ke kelurahan-kelurahan lain supaya mau menggunakan aplikasi tersebut.”
Di sisi lain, e-Kelurahan juga mampu mengedukasi masyarakat. “Umpama ketika ada masyarakat datang ke kelurahan mau buat surat apa, terus status pekerjaannya udah karyawan swasta, bukan mahasiswa lagi. Nah, kalau seperti itu harus update dulu Kartu Keluarganya, karena dari staf kelurahan nggak bisa ngubah itu,” kata Idfi. “Karena selama ini masyarakat kalau nggak ada perlunya nggak diubah.”
Idfi membahas mengenai Sungai Karang Mumus yang ada di Samarinda; bagaimana caranya untuk meng-engage masyarakat yang ada di bantaran sungai tersebut bahwa sebenarnya apa yang mereka lakukan saat ini di sungai tersebut kurang tepat. “Terus gimana caranya supaya mereka itu tidak ada rasa diintimidasi, diusir, dikucilkan, atau tidak dianggap. Hal itu yang aku angkat di dalam essay untuk program YSEALI,” sambungnya.
Ada satu hal unik yang terjadi, yaitu ketika Idfi harus sampai mengalami dua kali interview untuk penempatan karena panitia program YSEALI kebingungan harus menempatkan Idfi di tema Sustainable Development and the Environment atau Civic Engagement. “Tema yang aku pilih itu Civic Engagement, tapi aku membahas tentang lingkungan. Namun, pada akhirnya aku bilang kalau aku lebih ke Civic Engagement. Aku tidak bicara tentang bagaimana lingkungannya atau sungainya, namun yang aku bicarakan adalah manusianya.”
Akhirnya, Idfi pun ditempatkan di Northampton, Massachusetts di Department of Planning and Sustainability. Selama enam pekan, Ia pun berkantor dan beraktivitas di sana. Idfi juga banyak menyuarakan gagasan, ide, serta pendapatnya dengan terlibat dalam banyak project dan mengikuti berbagai community meeting dan diskusi publik bersama anggota dewan.

Pengalaman Berkesan: Project di Vinalhaven

Idfi Septiani

Idfi sedang mempresentasikan programnya. | Photo from Instagram/Idfiseptiani

Diakui Idfi Septiani, pengalaman paling berkesan selama menghabiskan enam pekan di Amerika ialah saat ia terlibat di suatu project di Vinalhaven, Maine. Vinalhaven sendiri adalah pulau penghasil lobster terbesar untuk Amerika.

“Karena baru pertama kali nyampe di Amerika, terus langsung di ajak ke pulau terpencil bahasanya dan terlibat project di sana selama satu minggu,” kenangnya.

Permasalahannya adalah anak-anak muda dari pulau tersebut perlahan-lahan tidak ada yang ingin kembali ke Vinalhaven setiap musimnya. Rata-rata dari mereka ingin hijrah ke kota besar dan bekerja di sana. Sehingga, dari yang awalnya berpopulasi sekitar 18 ribu penduduk, hanya tersisa menjadi sekitar 2 ribu penduduk saja. Hal tersebut tentu berdampak kepada perekonomian yang semakin menurun.

“Yang awalnya di pusat kota itu banyak toko-toko yang jualan, akhirnya banyak yang tutup karena nggak ada yang beli. Dulunya ada Sekolah Dasar (SD), akhirnya tutup. Itu jadi sebuah problem,” papar Idfi.

Sekitar satu minggu di pulau tersebut, Idfi bersama tim pun terus melakukan diskusi. “Jadi luar biasa ya, aku tergabung sama tim yang benar-benar profesional semua. Ada supervisorku, ada arsitektur ternama yang tergabung di Asosiasi Arsitek Internasional, ada profesor dari universitas, lalu ada juga mantan tentara Angkatan Laut Amerika, yang sekarang jadi profesor.”

Idfi juga berkesempatan untuk mengobrol dengan warga lokal di sana dan mendengarkan cerita mereka mengenai kondisi kota sebelum anak-anak muda berpindah ke luar kota.

Akhir dari project tersebut ialah Idfi bersama tim memberikan beberapa rekomendasi kepada masyarakat yang ada di pulau tersebut. “Mereka setuju nggak kalau akan dibuat mitigasi tentang kenaikan sea level, karena banyak anak-anak muda khawatir bahwa pulau itu akan tenggelam. Terus kami juga membangun lagi yang namanya departement store,” ungkapnya.

Tips Bagi Anak Muda Untuk Mengikuti Program YSEALI

Menurut Idfi Septiani, komitmen, profesionalisme, dan semangat kerja menjadi modal utama dalam bekerja untuk membantu masyarakat | Photo by @idfi_septiani on Instagram

Ada beberapa tips penting yang diberikan Idfi bagi anak muda di luar sana yang tertarik untuk mengikuti program YSEALI. Pertama, bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris adalah hal yang wajib. “Nggak perlu pakai TOEFL, IELTS, as long as you can speak English and you can understand what are we talking about, so it means you can speak English,” tutur Idfi.

Kedua, lakukan suatu hal yang berdampak pada lingkungan. Bukan berarti sesuatu yang besar, namun impact tersebut dapat dimulai dari lingkungan RT, and that’s enough.

“Contoh, dengan background jurnalis, ingin memberikan pengetahuan bagi anak-anak di RT untuk belajar menulis. Bisa tuh bikin kelas menulis gratis, ditujukan kepada anak-anak SMA yang tergabung dalam Mading. Dengan memberikan satu pendampingan secara terus menerus, terjadwal, for free, itu kamu sudah berdedikasi kepada masyarakat,” saran Idfi.

Karena kalau hanya berbicara secara konsep saja, menurut Idfi semua orang juga tentu punya konsep. “Tapi ketika eksekusinya, mereka bingung, baru satu kali dua kali melakukan, udah nggak lanjut lagi. Kuncinya adalah, kamu berbuat sesuatu kepada lingkungan dan buat inovasi,” tutupnya.

Karja, we share creative and up to date content for millennials and gen Z in Indonesia.”