Misman, pahlawan pemungut sampah di Sungai Karang Mumus saat ditemui di hutan kecil yang dia buat sendiri | Photo by Risky (Karja)

Sungai Karang Mumus adalah anak sungai yang terhubung langsung oleh sungai Mahakam dan berhulu di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak. Sungai tersebut merupakan salah satu sungai yang vital di Kota Samarinda karena menjadi jalur transportasi yang terhubung dengan banyak wilayah di Kota Samarinda.

Sungai ini sempat menjadi sumber penghidupan dan aktivitas warga serta makhluk hidup lain. Namun dengan kondisi pencemaran limbah yang melebihi ambang normal, status sungai Karang Mumus sekarang memprihatinkan dan tidak layak digunakan.

Seperti yang kita lihat, Sungai Karang mumus masih tercemar dan kotor. Hal inilah yang membuat Misman (55) tergerak untuk menjadi penggiat di bidang lingkungan dan alam serta mendedikasikan hidupnya untuk merawat Sungai Karang Mumus.

Misman menceritakan awal kecintaannya terhadap sungai sudah tumbuh sejak kecil, di mana sungai adalah tempat biasa ia bermain saat belum tercemar, air sungai masih segar dan bersih sehingga sungai menjadi sumber penghidupan bagi banyak makhluk hidup.

Berbagai tumbuhan dan pohon yang dijaga dan dirawat oleh Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM | Photo from Facebook/Misman Rsu

Berbagai jenis ikan, tumbuhan, dan manusia menggantungkan hidup pada sungai. Selain itu, kecintaan terhadap alam juga ditanamkan oleh kakeknya yang juga seorang pecinta alam.

“Jadi saya ikut kakek dulu, kalau buang apa-apa ke sungai itu tidak dibolehkan. Pernah saya buang biji rambutan juga tidak boleh, kakek saya mengatakan lebih baik buang di tanah kalau tumbuh jadi pohon, bisa jadi makanan ulat burung dan makluk lainnya,” kenangnya.

Sebagai seorang pensiunan PNS di Dinas Pendidikan Kota Samarinda, dulunya Misman juga aktif sebagai wartawan dan pengajar seni teater.

Memiliki basic sebagai seorang seniman, ia menjelaskan bahwa seniman selalu menggunakan imajinasi dan pikirannya. Dan dia sendiri sering berpikir ke arah lingkungan; keprihatinannya terhadap kondisi sungai membuat Misman melakukan beragam upaya.

“Sempat memperhatikan alam dengan menulis dan membaca puisi, tapi hal seperti itu tidak berdampak, membuat tulisan kondisi sungai yang memburuk pun kurang digubris karena kurangnya minat pembaca dilingkungan,” ungkap Misman.

Misman (baju biru memakai sarung tangan) bersama dengan masyarakat memungut sampah-sampah di Sungai Karang Mumus | Photo from Facebook/Misman Rsu

Akhirnya berawal dari hal itulah dengan bermodalkan perahu dayung dan kantong plastik, Misman menunjukan aksi dan upaya nyata dengan turun langsung ke Sungai Karang Mumus untuk memungut sampah sehelai demi sehelai.

“Saya sempat mengajak teman-teman saya memungut sampah, tapi mereka tidak mau. Akhirnya saya sendiri, dengan cara dipungut helai per helai karena orang-orang di Samarinda pada saat itu kalau membersihkan sampah itu didorong dan dari arah sana juga ikut mendorong akhirnya kembali lagi.”

Tidak menyerah walau sering mendapat cibiran

Ketika banyak yang membuang sampah sembarangan menjadi pemandangan yang biasa, sehingga melihat seseorang memunguti sampah menjadi pemandangan yang tidak biasa. Hal inilah yang terjadi pada Misman.

“Jadi waktu saya sendiri memunguti sampah banyak orang mengatakan saya orang gila tidak waras ini, orang-orang aja banyak yang buang cari perhatian aja,” ujar Misman sambil menirukan gaya omongan orang.

Walaupun begitu, ia tidak menghiraukan perkataan orang-orang yang mencibir dan menghinanya. Seperti sudah kebal tanpa henti, Misman melakukan aksinya setiap hari sampai mulai ada orang-orang yang peduli berdatangan dan ikut membantu.

Misman (baju hijau) di Posko Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM | Photo from Facebook/Gerakan Memungut Sehelai Sampah Skm

Akhirnya, masyarakat yang sadar mulai memperhatikan dengan ikut memungut sampah, walaupun sekarang mulai banyak yang membantu Misman mengaku masih sering dicibir.

“Bahkan sampai sekarang saya masih sering dituduh macam-macam, karena saya wartawan ada yang ngomong ah Misman itu wartawan cari proyek, padahal saya sendiri tidak pernah berpikir begitu,” ungkapnya.

Seperti yang kita ketahui bahwa membuang sampah di sungai sudah seperti menjadi budaya puluhan tahun lamanya, sehingga banyak pula yang mengatakan kepada Misman bahwa sampah-sampah di sungai tidak akan mungkin habis.

Namun Misman menjelaskan dengan memungut sampah di Sungai Karang Mumus, itu tidak bercita-cita untuk menghabiskan sampah, melainkan tujuannya adalah menghabiskan kebiasaan yang nyaris tidak berbudi luhur dan tidak berbudaya terhadap alam karena air sebagai sumber kehidupan manusia dan makhluk Tuhan lainnya.

Gerakan memungut sehelai sampah

Pangkalan pungut GMSS di Jalan Abdul Muthalib | Photo by Risky (Karja)

Usaha yang ia lakukan seorang diri tidak sia-sia. Mulai Dengan bantuan media sosial Facebook, Misman meng-update kegiatannya dan mendapatkan respon positif. Kemudian bersama teman wartawannya ia mendirikan GMSS (Gerakan Memungut Sehelai Sampah) pada pertengahan tahun 2015. Gerakan tersebut mempunyai wadah dan pangkalan memungut sampah yang berlokasi di Jalan Abdul Muthalib GMSS, Samarinda.

“GMSS berpendirian untuk tidak menggantungkan diri pada siapa pun, baik itu dengan pemerintah dengan pengusaha. Tetapi kita membangun kerjasama dengan siapa pun termasuk dengan pemerintah perorangan maupun organisasi sepanjang persepsi itu betul dan sama,” jelas Misman.

Photo from Facebook/Misman Rsu

GMSS disambut baik oleh warga sekitar, hal ini terlihat dari banyaknya warga yang berpatisipasi baik itu perorangan maupun organisasi. Selain itu, ada pula donatur yang mendukung dengan menyumbangkan peralatan-peralatan untuk merawat dan membersihkan sungai.

Misman menjelaskan gerakan ini dibentuk selain untuk merawat sungai juga untuk merubah mindset dan budaya masyarakat sehingga tidak ada lagi yang membuang sampah di Sungai Karang Mumus.

Seiring perkembangannya, GMSS mempunyai banyak program dan berkembang dari memungut sehelai sampah sampai menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas air. Salah satu programnya adalah pendidikan pohon dan penanaman pohon.

“Pohon kita sekarang ada 10.000 lebih dan terus kita kuasai untuk dilindungi dari tangan-tangan jahil yang ingin merusak untuk kepentingan pribadi,” pungkasnya.

Sungai Karang Mumus

Salah satu penghargaan dari Gubernur Kalimantan Timur untuk Misman sebagai Pemerhati Lingkungan Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2018 | Photo from Facebook/Misman Rsu

Selama menggerakkan komunitas GMSS, Misman harus berhadapan dengan para pembuang sampah dan penebang pohon. Meskipun demikian, ada orang-orang yang peduli dan turut membantu Misman dalam menggerakan GMSS. Karena kegigihannya, beberapa kali GMSS mendapatkan piagam dan bentuk penghargaan lainnya sebagai bentuk apresiasi.

Sungai Karang Mumus

Penghargaan lainnya dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus | Photo from Facebook/Misman Rsu

“Kami sering mendapat penghargaan mulai dari walikota, gubernur, lembaga-lembaga sampai ke mahasiswa. Hal tersebut menjadi sebuah dukungan moral bagi kami,” ucapnya.

Mendirikan Sekolah Karang Mumus dan membangun hutan

Sungai Karang Mumus

Siswa-siswi dari SDN 021 yang melakukan kunjungan belajar di Sekolah Karang Mumus | Dokumentasi Pribadi (Misman)

Kepedulian dan kecintaan Misman terhadap alam dan sungai ia tanamkan pula kepada anak-anak melalui pendidikan non formal yang ia dirikan dengan nama Sekolah Karang Mumus. Sekolah tersebut berlokasi di pinggiran sungai daerah Lempake.

Dengan tempat dan bangunan yang sederhana, Misman membagi ilmunya kepada anak-anak. “Saya berharap dengan adanya Sekolah Karang Mumus, generasi penerus akan lebih peduli pada alam dan sungai sehingga menjadikan merawat sungai suatu budaya.”

Anak-anak yang belajar di Sekolah Sungai Karang Mumus berasal dari anak sekitaran Sekolah Karang Mumus hingga dari berbagai sekolah formal yang melakukan kunjungan belajar. Selain Misman, siapapun bisa berpatisipasi membagi ilmunya.

Salah satu yang tidak biasa dari Sekolah Karang Mumus ini adalah lokasinya yang berada di pinggir sungai sehingga bisa di lewati melalui perahu dan tempatnya yang asri dan teduh karena di tumbuhi banyak pepohonan.

Sungai Karang Mumus

Masyarakat ikut berkontribusi pula menanam bibit pohon di sekitar Sungai Karang Mumus | Photo from Facebook/Misman Rsu

“Dulunya di sini daerah yang kering dan kosong tanpa satupun tanaman. Kemudian kami tanam berbagai jenis tanaman dan pohon sampai jadi hutan lindung seperti sekarang walau hanya sejengkal,” kenangnya.

Saat ditemui Karja di Sekolah Karang Mumus, Misman tengah sibuk merawat pohon di pinggiran sungai. Di usianya yang tidak lagi muda, semangat dan cita-citanya masih belum luntur. Namanya pun semakin erat dengan Sungai Karang Mumus, begitu pula kecintaan dan ketulusannya terhadap Sungai Karang Mumus.

Sungai Karang Mumus

Sungai yang bersih dan hutan yang asri hasil dari kegigihan Misman | Photo by Risky (Karja)

“Kalau di satu hari saya hanya mampu menanam satu pohon, merawat satu pohon dan memungut sehelai sampah, saya akan tetap lakukan dan tidak pernah menunggu Anda atau siapa pun. Tapi begitu banyak yang datang maka kita akan semakin kuat,” tutupnya.

Karja, we share creative and up to date content for millennials and gen Z in Indonesia.”